Postingan

DI BALIK SKENARIO PEMATAH HATI

Hai apa kabar kawan-kawan. Sudah cukup lama saya tak mengotori lini masamu dengan tulisan-tulisan enggak jelas. Hampir 4 bulan dari awal tahun kemarin saya memutuskan tak lagi mengotori caption postingan instagram. Banyak sebab yang membuat saya berhenti. Salah satunya saya harus konsentrasi untuk naskah buku kedua. Yang di akhir tulisan ini bakal saya bahas. Ada hal lain juga yang membuat saya tergerak. Iya, sesuai dengan judul tuliasan ini. Pernah suatu ketika kawan saya dari Surabaya berkata, "Berkaryalah–menulis–dengan jujur, supaya tulisanmu lebih berkarakter dan dikenal orang itu karyamu." Yang membuat saya terhantui sampai sekarang, yang membuat saya menulis ini. Berawal dari pesan kawan saya, saya akan mengupas tuntas di balik buku Skenario Pematah Hati. Siapa saja yang terlibat di dalamnya, siapa saja yang saya tulis kisahnya, apa saja keresahan, dan tentu proses penulisan sampai beredarnya buku. Saya akan memulainya dengan: Siapa saja yang terlibat? Buku ini a...
Pernah seseorang bertanya, "Kenapa harus aku?" Kuberanikan diri untuk menatap matanya,  bukan untuk menjawabnya. Aku lebih memilih diam,  sebab cinta tak membutuhkan alasan. Cinta wajib diungkapkan, jika kau mengijinkan aku akan berjuang. Cinta tak bersyarat. Cinta tak butuh alasan tak butuh banyak penjelasan. Cinta tetaplah cinta. Bahkan, jika pohon di dunia ini ditebang dan dijadikannya kertas, tak akan mampu menampung alasanku. Kamu tetaplah kamu yang aku cinta, tak butuh tanya, tanpa karena. "Skenario Pematah Hati"

Aku Tak Paham Menungkapkan

Telah aku dengar akhir akhir ini betapa bahagianya kau dengan kekasihmu. Deretan foto mesra berdua menghiasi akun lini masa. Rentetan story menghiasi instagrammu tak kenal henti. Begitu indahnya kau pasang foto berdua dengan background dan penampilan rapi layaknya sudah siap kau dipinang dan di nafkahi. Betapa indah bahagiamu. Aku pengagum cerita indah calon keluarga kecilmu. Puluhan ucapan selamat dikolom komentar foto yang kau unggah membuatku iri, seakan kisah kita dahulu tlah hilang ditelan hati yang kini membuatmu riang. Aku hanya bisa menikmatinya, betapa banyak orang yang menyayangimu, bahkan komentar ku pun tenggelam oleh kepedulian orang orang sekitar. Aku tak pernah tahu cara mengungkapkan. Apakah aku harus mendoakanmu dengan sesuatu hal yang memojokkan dan menjelekkanmu di mata Tuhan. Aku rasa tidak. Sebab Tuhan tak pernah mengabulkan apa yang tidak baik untuk umatnya. Aku tak paham mengungkapkannya. Apa aku harus sedih? Apa aku harus bahagia? Entah. Jika ak...

Seduhan Air Mata

Dikala cinta sedang mekar mekarnya kau tak pernah disibukkan menyiramnya. Sosok pria yang jauh disana yang dulu pernah kau cintai mulai datang dan menceritakan kenang. Kenangan tentang bahagiamu dulu dengannya. Aku bisa apa? Aku yang tak pernah punya rasa cemburu karena kepercayaanku hanya bisa menjadi pendengar setia kisahmu. Pahamlah disini aku benar benar menangis akan kisahmu yang begitu romantis.  Apa kau tak pernah berpikir bagaimana perasaanku ketika kisahmu dengannya kau ukir. Tidak... Tidak.. Aku manusia tangguh. Tak akan menangis hanya karena kisahmu yang kini mulai kau seduh, kau seduh dengan air mata bahagia. Aku paham. Kau bercerita tanpa sedikitpun beban. Bagaimana juga dia pernah ada dalam perasaan. Mungkin kau masih menyimpan rasa dulu yg tak tersampaikan. Biarlah aku disini menikmati luka yang lebam di sudut harapan. Puaskan, bahagialah kau dengannya, reunilah dengan kenangan, asal kau tak bermain perasaan, aku bisa menerima dengan penuh kesakitan. Dima...

KAU DATANG DARI RASA YANG PERGI (ajari aku)

Manusia diciptakan menjadi tangguh. Mereka tak mudah larut dalam keterpurukan yang membuatnya rapuh. Jika hal yang membuatmu bertanya "aku ini manusia macam apa?" Hanya karena ketertinggalan hati, aku membenci tiap-tiap raga yang berusaha menghampiri. Banyak keentahan hinggap di sudut pusat saraf. Banyak kegundahan mencoba membuyarkan fokus pikiran. Mungkin ini semacam hipnotis. Intuisi dari luka dan duka masa lalu mampu membuatku hilang arah. Jatuh hati perihal mudah, jatuh cinta terlihat gampang, tapu untuk menerima seutuhnya aku masih terasa bimbang. Untuk mencintaimu seutuhnya aku masih tak bisa. Ribuan kenangan, jutaan memori tentangnya masih menghantui perasaan. Tuhan, jika aku harus membuka hati untuk cinta yang pasti, berikan aku sesosok raga yang mampu menaungi hampa, merubah bukan mengatur, mampu berjalan seiringan bukan menarikku tak berkeinginan. Jika ia adalah yang Kau kirimkan untukku, jika semesta yang mempertemukannya. Aku siap perihal resiko yang akan ku ...

R I A N G

Aku kurang tahu definisi bahagia seperti apa? Terpenting apa yang aku jalani sudah sesuai dengan kemauan hati. Segala sesuatu hal yang kita lakukan jika sesuai dengan apa yang kita harap pasti menciptakan hangat seperti didekap. Mungkinkah ini bahagia? Semoga saja iya... Yang jelas saat ini aku sedang menemukan satu hal yang membuat abu-abuku menjadi istimewa, seperti bunga di setiap bucket yang selama ini gersang hanya terisi busa yang makin lama makin usang. Kau warna, dari abu-abuku yang terlalu lama... Bagai bintang yang menghiasi langit malam, kau kembali setelah sekian lama mendung menutupi. Kau membiaskan cahaya pada pusat semesta. Dimana aku menjdi pengagummu, menjadi penghias atap berlindungku dari gelap. Kau bintang, sekian lama ku tunggu akhirnya datang... Ini bahagia, aku yakin iya,.. Kau tetap warna, kau tetap indah... Kau tetap bintang, kau tetap benderang... Dan aku, Tetap abu-abu, tetap langit kelabu... wahyupdf | 090517

TEMU

Aku paham semesta tak pernah lelah berkonfrontasi semesta tak pernah berhenti berkonspirasi. Tuhan menjadi satu-satunya pemilik terimakasihku. Engkau berhasil mempertemukanku dengan dia, pusat semestaku. Ini adil, ditengah hati yang menggigil kau hadirkan sebuah sosok raga yang mampu membuatku mematahkan pemahaman bahwa malaikat tak selamanya bersayap. Kau mampu mengajariku mengeja lima huruf membentuk kata CINTA. Kau mampu meredakan resah dari hati yang tak kunjung berpindah berpindah darinya yang kini telah bahagia dan tak sedikitpun lelah. Sudah, cukup! Aku tak mau terlalu jauh membahasmu, karena mendengar namamu saja cukup membuatku gugup. Terpenting kemarin, saat ini dan untuk selamanya, tidak, tidak selamanya hanya cukup sepanjang usia, kau ada sesak memenuhi ruangan yang disebut hati. Aku tak mau terlalu jauh mengagungkanmu, karena cukup aku nikmati dengan mata terpejam, kau lebih harum dari aroma parfumku setiap pagi. Kau lebih legit dari kopi yang ku teguk dua kali sehari, ...