DI BALIK SKENARIO PEMATAH HATI
Hai apa kabar kawan-kawan.
Sudah cukup lama saya tak mengotori lini masamu dengan tulisan-tulisan enggak jelas. Hampir 4 bulan dari awal tahun kemarin saya memutuskan tak lagi mengotori caption postingan instagram. Banyak sebab yang membuat saya berhenti. Salah satunya saya harus konsentrasi untuk naskah buku kedua. Yang di akhir tulisan ini bakal saya bahas. Ada hal lain juga yang membuat saya tergerak. Iya, sesuai dengan judul tuliasan ini. Pernah suatu ketika kawan saya dari Surabaya berkata, "Berkaryalah–menulis–dengan jujur, supaya tulisanmu lebih berkarakter dan dikenal orang itu karyamu." Yang membuat saya terhantui sampai sekarang, yang membuat saya menulis ini.
Berawal dari pesan kawan saya, saya akan mengupas tuntas di balik buku Skenario Pematah Hati. Siapa saja yang terlibat di dalamnya, siapa saja yang saya tulis kisahnya, apa saja keresahan, dan tentu proses penulisan sampai beredarnya buku. Saya akan memulainya dengan:
Siapa saja yang terlibat?
Buku ini adaptasi dari kisah nyata percintaan yang saya alami. Mulai dari pertama saya mengenal perempuan di bangku SMA (iya, pertama kali pacaran SMA), sampai setahun yang lalu. Dan, siapa saja yang terlibat? Ada banyak orang, mohon maaf jika saya terlewat tidak menyebutkannya, salah satunya yang paling berjasa adalah teman sebangku saya swlama SMA, yang enggak nyangka dulunya tak pernah menyukai urusan tulis menulis malah sekarang menjadi salah satu founder dari Komunitas Literasi di Kota kelahirannya. Ya, Mutholibin Ulum biasa disapa Bung Mubin a.k.a Ulum sekaligus marketing dari penerbit Karya Literasi Indonesia. Salam Hangat Bung!. Yang kedua adalah teman-teman kuliah dan kost selama saya belajar dan hidup di Surabaya. Saksi hidup dari 60% lebih kisah di buku tersebut. Yang terakhir adalah kalian pembaca, pembeli, dan pengapresiasi karya saya. Tanpa kalian, saya tak bisa seperti sekarang. Kenapa saya tidak menyebutkan orang tua saya? Awalnya memang mereka tidak tahu kalau saya sedang menyelesaikan sebuah buku, tapi saya yakin, buku ini juga berkat doa mereka yang terijabah. Aku cinta Ibu ❤
Mohon maaf jika tak bisa saya sebutkan semuanya. Sebab, dalam persembahan buku sudah saya sediakan sebaris kosong untuk diisi nama kalian sendiri 😍
Siapa saja sosok tertuang dalam cerita?
Oke, ini adalah hal paling berat ketika saya mulai menuliskannya. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, ini adalah kisah pribadi saya. Dan mereka yang ada di dalamnya adalah masa lalu, bagian penting yang membuat hidup saya seperti sekarang. Bahgaia (asli enggak bohong). Ada banyak sekali. Cinta pertama saya, pacar saya selama SMA, pacar saya selama kuliah, taksiran saya selama kerja, pacar orang, atau mungkin juga pacar kamu 😂 untuk saat ini dan sampai kapanpun saya tidak akan menyebutkan nama, sesuai yang ada di buku saya. Mereka punya privasi dan masa depan sendiri. Jadi kenapa tidak kita hormati? Untuk ijin sudah saya dapatkan pada semua pihak sebelum buku naik cetak. (ciee yang nunggu sebuah nama disebut)
Bagaimana proses penulisan sampai terbit?
Kali ini perlu saya jelaskan panjang dan lebar. Awal saya menulis adalah jaman saya duduk di bangku kuliah, saya mulai menyukai buku-buku yang dapat saya pinjam dari teman-teman (anak kost-an belum mampu beli buku sendiri) hingga pada akhirnya saya lulus kuliah muncul ide gila (menurut saya dulu) buat nulis kisah saya sendiri. Saya tak seberapa kesulitan. Sebab, saya sering kali menulis pada buku harian baik media fisik maupun digital. Saya mengumpulkannya jadi satu dan jadilah dua naskah buku. Yang pertama berjudul Semesta Menerka (2014) dan siklus semesta (2016). Pada saat itu saya mencoba mencetaknya sendiri dengan media yang ada, saya print sendiri saya jilid ke tukang penjilidan dan jadilah sebuah karya yang saya konsumsi sendiri denga teman-teman. Dan dari sanalah terbesit untuk bagaimana jika naskah ini dipublikasikan dan dikomersilkan, tentu saja dengan penyempurnaan dari ide-ide dari teman yang saya paksa buat baca 😂
Awal yang membuat saya bertemu kembali dengan Bung Ulum, saran demi saran hingga saya direkomendasikan untuk memerbanyak cetakan saya di penerbit yang dia kelola. Muncullah Skenario Pematah Hati, hasil dari perkawinan antara Semesta Menerka dan Siklus Semesta. Saya sempat kesulitan ditengah jalan. Materi keteteran, biaya penerbitan kurang banyak sekali yang membuat saya berpikir apa tak usah saja saya terbitkan. Buku ini sempat stug di bab 20. Dan saya benar-benar buntu tak bisa lagi meneruskan. Hingga ada yang menyarankan saya harus riset, saya harus bepergian, saya harus rehat. Saya mencoba semua, mulai dari riset dengan cara jadian dengan banyak orang, godain cewek berakhir kencan, jadian seminggu terus putus (maaf ya para korban atau saya yang jadi korban 😂😢 chat kalian semua masih tersimpan baik WA atau DM Instagram hahaha) disini letak ketidakjujuran saya. Tapi alhamdulillah riset tersebut sangat membantu. Hingga ada teman saya yang mengajak liburan ke Kota Bandung (gratisan). Selama seminggu saya menyelesaikan naskah buku di sana. Banyak tempat indah, banyak inspirasi. Alasan saya sampai sekarang mencintai kota itu. (Bandung, aku ingin kembali). 50 Bab selesai, saya selesaikan dan masih harus disunting yang menjadikannya sekitar 40 bab siap diterbitkan. Sampai akhirnya bisa kalian baca, kalian peluk, kalian kutip kalimatnya untuk pengindah postingan instagram. Terima kasih kawan-kawan.
Semuanya sudah saya ceritakan, menjawab penasaran kalian sebelum naskah kedua saya publikasikan. Jika masih belum jelas bisa kau hubungiku lewat lini masa. Perihal naskah saya yang kedua berjudul PERSINGGAHAN LUKA saya akan lebih jujur berkarya, bukan lagi kepura-puraan riset yang saya alami. Saya akan menulis dengan gaya saya sendiri (semoga). Naskah ini sementara waktu tidak akan saya cetak fisik, hanya akan saya publikasikan lewat website secara berkala dengan format cerita dan musikalisasi puisi yang nantinya bisa kalian unduh. Untuk tanggalnya tepat 28 april akan saya publish secara umum dan dapat kalian akses dengan kuota internet. Semoga kalian suka dan tak perlu mengeluarkan biaya banya untuk menikmatinya.
Terima kasih untuk apresiasi Skenario Pematah Hati. Semoga Persinggahan Luka mampu mengobati rindu akan sajak-sajak pedih yang menbuatmu terharu.
Salam Hangat.
Alinea Kosong.
Komentar
Posting Komentar