Berakhir Di Lain Pelukan (sebuah penyesalan)
Setiap keputusan
adalah hal yang benar-benar matang dan perlu pemikiran yang jauh. Tapi untuk
saat itu aku tak berpacu pada teori tersebut, pertama kali aku mengambil
keputusan berat tentang sebuah hubungan, dan itu salah ketika aku menyadarinya.
Dimana untuk kali pertama aku harus melepas, meninggalkan dengan sangat
beringas raga yang pernah aku perjuangkan dengan mati-matian, raga yang selalu
menjadi pelengkap dalam setiap langkah kehidupan. Wanita yang menjadi motivator
kedua setelah ibuku, semangat kerja, menyusun tugas akhir perkuliahan, aku akui
tak akan bisa aku pada titik tersebut tanpa dia. Iya.. dia yang begitu sangat
berarti, sangat berharga untuk deretan wanita yang pernah singgah dalam
penghujung resah.
Aku dengan
teramat sadar melukai sebuah perasaan seseorang yang tiada lelah dan henti
memberi arti dalam hidup ini. Pertemuan yang dulu sengaja dipertemukan rasanya
tak pernah mampu memaafkan tiap tiap kesalahan yang pernah aku lakukan. Bagaimana
mungkin aku setega itu, sampai saat ini aku tak sempat berpikir kenapa aku
begitu kejam pada hati yang jelas tak pernah menghujam. Bahkan hujan semangat
yang selalu dia berikan setiap harinya tak pernah ku hiraukan.
Keputuan fatal
ini berawal ketika sebuah beban yang menggelantung di fikiran, ketika seorang
lulusan sarjana pendidikan lulus dengan tak seberapa membanggakan, iya, aku
lulus dengan keterlambatan satu semester. Aku tak pernah peduli, sebarapa lama
yang terpenting aku bisa lepas dari hujaman tugas-tugas dan juga aktifitas yang
membelenggu di tiap pekan yang menjenuhkan.
Akhirnya aku
lulus juga…
Kata kedua
yang aku ucapkan setelah sujud syukur pada hadapan Tuhan…
Aku tahu
ini bukanlah sebuah akhir, melainkan sebuah awal, dimana gerbang kehidupan yang
sebenarnya sudah menanti di depan mata. Kerja, karir, kemapanan, hingga ikatan
suci yang direstui oleh Tuhan tetiba-tiba menghantui perasaan. Mungkin tidak
hanya aku, ketika mereka sudah berhasil lulus dari jenjang pendidikan pastilah
pikiran akan bercabang. Saat itu pula aku berada di sebuah fase dimana
kegundahan menjadi makanan pokok dan kebutuhan. Bagaimana tidak, seorang mantan
mahasiswa perantau kembali ke kampung kelahiran, pasti dihadapkan dengan
beberapa pilihan. Apalagi saat itu aku masih terikat sebuah hubungan dengan
satu perempuan. Iya perempuan yang sekilas aku banggakan di awal tulisan. Aku harus
menjalin hubungan yang biasa disebut anak muda jaman sekarang dengan Long
Distance Relationship. Apalah…
Jujur kala
itu sungguh berat, dimana pikiran akan seorang pengangguran dengan beraninya
menjalin hubungan dengan anak orang. Hingga
akhirnya keputusan bodoh ini muncul, aku dengan nista mulai menjauhinya, kata
putus menjadi penghujung dari sebuah hubungan yang dengan istimewanya
menyisakan kenang. Alasan klise hubungan jarak jauh kala itu semakin
mendramatisir suasana. Padahal pikiran akan masa depan yang belum tentu
meyakinkan yang menjadikannya alasan aku berhenti berhubungan.
Aku bodoh…
Aku pengecut…
Aku pendosa…
Bagiku,
melapasmu butuh pikiran yang jauh lebih rumit dari sekedar mencari pekerjaan. Memang
penyesalan yang menjadi hantu setelahnya. Perasaan bersalah seakan-akan
membuatku goyah, bukan mengurangi beban pikiran, malahan menambah angan ditiap malam menjelang temaram. Aku dengan
sangat sadar melukai hati permpuan baik yang tanpa sedikitpun mengenyam
kesalahan.
Beribu maaf
aku panjatkan pada Tuhan. Perihal apa yang ku perbuat melukai perasaan.
Aku menulis
ini adalah sebuah pengakuan dosa, yang tak akan pernah bisa aku perbaiki, tak
akan pernah bisa aku mulai dari awal. Dimana aku perjuangkanmu dengan teramat
gilanya.
Kamu…
Pusat semestaku…
Kala itu,
Sebab,
terakhir kali aku menghubungimu, beribu maaf terlontarkan tak pernah kau
hiraukan, bahkan aku dengar kini kau tengah dekat dengan seseorang.
Maafkan…
Aku yang
tak berperasaan…
Sakit mendengar
kabar bahagiamu dipelukan kekasihmu. Aku siap menanggung semua karma dari
bibirmu yang tak pernah ku dengar terucap. Aku menanggungnya. Aku menderita
dengan sebuah luka yang kubuat dengan sendirinya.
Sekali lagi,,,
Maaf. Maaf.
Maaf…
Beserta doa
doa sederhana yang mengharapkanmu bahagia dengannya. Selalu tersenyum untuk
lelakimu seperti dulu ketika kau memahami egoku. Terimaksih pernah singgah di
hati yang menyakitimu dengan terengah-engah. Berbahagialah selalu. Dan, untuk
lelaki yang sekarang menjadi pusat perhatianmu, titipkan salamku jangan seperti
aku yang dulu meninggalkanmu, jangan pernah menyakiti perempuan yang menjadi
nomor satu di hati. Dan selamat, kau mendapatkan perempuan yang tepat, aku
yakin setiap langkahmu ada dia yang selalu mendekap. Jadilah lelaki baik untuk
perempuan yang baik. Kelak, ketika kalian mengucap janji suci di pelaminan, aku
akan menjadi pengagum pertama keluarga baru yang telah ku ikhlaskan. Berbahgialah
kalian berdua. Disini aku masih menanggung luka dari apa yang pernah aku tanam
di masa lalu penuh nelangsa.
Disini aku
menunggu undangan pernikahanmu, dan akan selalu tersimpan, untuk mengingatkan
bahwa pernah ada satu perempuan yang aku ikhlaskan di lain pelukan.
wahyu.pdf | 230417

Komentar
Posting Komentar